Senin, 09 April 2012

BAB IV LAHIRNYA GURU AGUNG ROMO Rps SASTROSUWIGNYO

Para pembaca yang saya hormati, diatas penulis sudah memberi gambaran cara-cara untuk menghayati Ilmu Kasuksaman Tiga Perangkat. Saya sangat mengahargai / kagum kepada siapapun yang telah berhasil menemukan ilmu pengetahuan yang bisa berguna untuk kesejahteraan umat manusia, yang bisa menyelamatkan umat manusia, yang bisa menentramkan hati umat manusia dimuka bumi ini, ya utamanya dimuka bumi ini, kalau di planet-planet lainnya itu terserah para ahli para ilmuwan yang harus menyelidiki, siapa tahu disana ada kehidupan selain di muka bumi ini. Apa mungkin manusia bisa hidup disana anak beranak di bulan atau di mars misalnya. Mudah-mudahan, supaya semua tidak berjubel di muka bumi yang penduduknya tahun 2050 sudah sekian miliar jiwa. Nanti kalau kita punya anak disana kita cukup kirim surat.
       Kurang lengkap kiranya kalau penulis tidak menceritakan asal-usul terbukanya Rahasia Ilmu Tiga Perangkat ini atau disebut Ilmu Kasuksman. Bagaimana ilmu ini diketemukan, kegunaannya apa atau manfaatnya untuk umat manusia positif atau negatif terhadap kehidupan kita.
       Diatas sudah saya sebutkan didalam pengantar tulisan ini. Romo Rps Sastrosuwignyo almarhum adalah yang menggali Ilmu Kasuksman Tiga Perangkat. Beliau lahir tanggal 30 September tahun 1868, di daerah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Beliau sudah meninggal pada tanggal 24 Oktober tahun 1957 dan dimakamkan di Desa Jagalan, Kecamatan Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia. Dilereng Gunung Merapi sebelah barat.
       Adapun silsilah Romo Rps Sastrosuwignyo seperti dibawah ini:

Dari Ayah

Dari Ibu
Kyai Wirobongso

Kyai Haji Ngiso
Kyai Wiropati

Kyai Mangun Sastro
Kyai Nototrisulo
+
Kyai Nototrisulo

Romo Rps Sastrosuwignyo


Silsilah tersebut penulis ambil yang silsilah pokok, sebab Romo Rps Sastrosuwignyo keturunan Sunan Pakubuwono III Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari jalur keturunan ayahnya, Rmo Rps Sastrosuwignyo memang orang yang luar biasa dalam hal penguasaan ilmu ma’rifat, ini menurut sejarah yang telah penulis baca di sebuah kitab Agung Pandom Suci dan Surat Wasiyat.
       Tulisan almarhum Bp. Pujosuwito (salah satu murid dari Romo Rps Sastrosuwignyo) dalam Surat Wasiyat juga tulisn almarhum Bp. Darmowasito dalam Kitab Agung Pandom Suci yang sekarang kitabnya mungkin sudah sulit dicari, rusak atau hilang.
       Kyai Wirobongso buyut dari Romo Rps Sastrosuwignyo waktu mudanya adalah seorang panglima perang yang sebutannya “Banteng Mataram”. Kalau menurut pemahaman orang-orang Jawa, Banteng yang sebenarnya adalah sapi jantan simbul kekuatan yang sangat tangguh, tidak kenal menyerah apalagi kalau banteng itu sudah terluka. Jangan macam-macam dengan banteng tersebut, semboyannya Hidup atau Mati. Mataram, adalah sebutan kota Yogyakarta dalam masa masih kerajaan sebelum Indonesia merdeka, bahkan sampai sekarang kerajaan tersebut masih kokoh berdiri si Surakarta dan Yogyakarta lengkap dengan raja-rajanya dan isinya. Anda boleh berkunjung kesana silahkan membuktikan, bahkan raja-raja Mataram tempo dulu dimakamkan disatu kompleks di kota Imogiri (Imo=kabut, Giri=gunung). Memang disebuah bukit kecil sebelah selatan kota Yogyakarta kira-kira limabelas kilometer di dekat pantai Parangtritis, menghadap keselatan. Disitu anda akan menikmati pantai lautan Indonesia, kalau dulu Samudera Hindia, indah sekali dengan pasir putihnya yang luas.
       Kita kembali ke silsilah diatas. Kyai Wirobongso pada akhirnya bertempat tinggal di daerah Sleman utara Yogyakarta, seorang pejabat setingkat dibawah Bupati. Orangnya jujur, suka menolong, seorang muslim yang sangat taat kepada aturan Tuhan. Sangat tinggi ilmunya, bisa melihat masa depan apa yang akan terjadi didunia ini. Suka menolong rakyatnya tanpa pamrih (imbalan) malah suka membantu, sangat loyal dan berjiwa sosial. Karena waktu mudanya memang bekas panglima perang. Beliau sangat tangguh kalau jaman dulu disebut digdaya (tidak mempan kena senjata apapun). Oleh karena itu sangat disegani rakyatnya dan para punggawa Keraton Mataram lainnya. Rakyatnya sangat tenteram, banyak rakyatnya berguru kepada ulama besar tersebut untuk membekali diri selama masih hidup. Tirakat (puasanya) adalah menjadi kewajiban pokok dan penting sebagai syarat supaya bisa selalu mendekat kepada Tuhannya.
       Beliau dimakamkan di kompleks para keturunan raja di Surakarta. Kyai Wirobongso mempunyai anak Kyai Wiropati Kyai Wiropati juga seperti almarhum Kyai Wirobongso dalam segala hal, malah penghayatan ilmunya melebihi sang ayah. Sangat waskito beliau juga menjabat seperti ayahnya dipemerintahan Kraton Mataram. Kyai Wiropati adalah salah satu Panglima Perangnya Pangeran Diponegoro dalam perang Diponegoro 1825-1830 melawan penjajah Belanda.
       Dalam sejarahnya Kyai Wiropati panglima digdaya (sangat sakti). Sulit musuh yang akan menangkap karena mendapat bekal dari Tuhan ilmu keutamaan. Setelah Pengeran Diponegoro ditangkap Belanda (Kompeni), Kyai Wiropati kembali ke kampung halamannya  membaur dimasyarakat di daerah Sleman daerah Mlati utara Yogya.
       Seperti ayahanda, Kyai Wiropati punya kemampuan yang sama seperti Kyai Wirobongso. Tirakat dan puasanya melebihi sang ayah. Perlu diketahui orang-orang Jawa pada masa itu khususnya mencari ilmu (isi badan) sangat penting. Setelah menginjak dewasa untuk menjaga diri dari bahaya, biasanya anak-anak muda mesti mencari guru spiritual yang ampuh. Mereka rela menyiksa diri tanpa makan tujuh hari tujuh malam, tidur dipinggir sungai setiap malam selama empat puluh malam, ditempat-tempat angker sarang ular berbisa yang pasti banyak makhluk halus disana dan berulang-ulang sampai lulus sesuai petunjuk gurunya. Pendidikan formal memang tidak ada karena masih dalam penjajahan Belanda. Rakyat kecil tidak boleh sekolah, sebab kalau pintar akan membahayakan penjajah. Pangeran Diponegoro tidak lulus S1 sudah melawan penjajah, apalagi kalau pasukannya para mahasiswa, bayangkan! Yang boleh sekolah anak-anak pejabat kerajaan itupun sekolah Belanda, atau kalau anak-anak desa sekolah mengaji membaca Al-Qur’an kepada guru agama.
       Kyai Wiropati mempunyai anak Kyai Nototrisula, seorang yang menjabat sebagai Demang diwilayah Sleman. Kyai Nototrisula menurunkan anak yaitu Romo Resi Pran Soeh Sastrosuwignyo. Kyai Nototrisula berbeda dengan ayah dan kakeknya yaitu Kyai Wiropati dan Kyai Wirobongso. Kalau ayah dan kakeknya ulama besar yang sangat waskito dalam olah ilmu ma’rifat, Kyai Nototrisula ini berlawan dalam segala hal, dengan ayah dan kakeknya. Maka dari itu nanti setelah berumah tangga hidup anak dan isterinya sangat menderita padahal Kyai Nototrisulo tersebut masih keturunan darah biru (Raden)raja-raja). Keturunan raja-raja, sebetulnya hampir mustahil untuk jaman itu. Keturunn raja hidupnya sampai jatuh miskin, karena melakukan hal-hal yang maksiat melanggar larangan Tuhan seperti yang tertulis diatas berupa empat larangan yang dilanggar. Kyai Nototrisula tidak berumur panjang, beliau meninggal pada usia empat puluh dua tahun.
       Garis keturunan dari ibu
       Kyai Haji Ngiso dari daerah Kedu mempunyai anak Kyai Mangun Sastro. Kyai Mangun Sastro mempunyai anak (Nyi Nototrisula) perempuan. Nama aslinya penulis tidak mengenal sebab data tidak ada.
       Orang Jawa kalau sudah menikah (jadi pengantin) terus mempunyai nama baru. Nama baru tersebut dipakai berdua suami isteri. Jadi Kyai Nototrisula nama isterinya menjadi Nyi Nototrisula.
       Kyai Haji Ngiso seorang muslim yang taat menurut catatat para pendahulu penulis. Meskipun tidak kaya akan tetapi seorang petani ulet, jujur, hemat, baik hati dan sangat rajin bekerja. Beliau hemat menabung sehingga bisa menunaikan ibadah naik haji. Setelah pulang naik haji hidupnya semakin berat karena sebagian tanah / sawah sudah terjual, tetapi beliau tetap tegar dan hidup stabil dan sangat dihormati warga sekitarnya.
       Kyai Haji Ngiso mempunyai anak laki-laki bernama Kyai Mangunsastro yeng bertempat tinggal didesa Tumpang, Kragawanan, Sawangan juga bertempat tinggal diwilayah Kedu sebagai pamong desa. Kyai Mangunsastro tersebut mempunyai anak Nyai Nototrisula (nama aslinya tidak dikenal) dari hasil perkawinan suami isteri Kyai Nototrisula tersebut lairlah “Gunung Romo Pran Soeh”, yang nanti akan bernama “Romo Rps Sastrosuwignyo”.
       Kyai Wiropati pada tahun 1863 berpesan kepada anaknya yaitu Kyai Nototrisula,”Cucuku (anakmu) yang nomer dua akan lahir laki-laki. Kamu beri nama Gunung Romo Pran Soeh, anak itu mempunyai kelebihan kalau dibandingkan dengan umat manusia yang lain.        Kalau adiknya Gunung Romo Pran Soeh sudah lahir yang akan lahir perempuan, waktu itulah riwayat hidup saya sudah habis (meninggal dunia).” Hanya saja Kyai Nototrisula tidak pernah memikirkan ucapan ayahnya. Yang selalu mengingat ucapan Kyai Wiropati justeru Nyai Nototrisula.
       Para pembaca bisa membayangkan andaikata ucapan Kyai Wiropati tersebut meleset (tidak) terbukti bagaimana akibatnya? Pasti malu sekali.
       Setelah hampir lima tahun ditunggu betul Kyai Nototrisula mempunyai anak laki-laki seperti pesan Kyai Wiropati anak tersebut diberi nama “Gunung Romo Pran Soeh”. Hari Rebo Pahing, 30 September 1868.
       Tidak lama beberapa tahun kemudia Kyai Nototrisula mempunyai anak, betul ternyata lahir perempuan, waktu itu menjelang subuh Kyai Wiropati masih sholat Subuh. Sehabis sholat Subuh masih menengok anak mantunya (Nyai Nototrisula) yang akan melairkan anaknya yang ke tiga. Kyai Wiropati bilang,”Cucu saya hampir, saya juga hampir.” Tidak lama kemudian lahirlah adiknya “Gunung Romo Pran Soeh” memang betul lahir perempuan seperti sabda Kyai Wiropati beberapa tahun silam. Kemudian Kyai Wiropati merebahkan diri melipat tangan di dada langsung berpulang (meninggal dunia).
       Seluruh kampung gempar mendengar berita wafatnya Kyai Wiropati (sekarang makamnya ada di desa Mlati Sleman, utara Yogyakarta dekat makam pahlawan nasional Dr Wahidin Sudiro Husodo), apalagi sebelumnya beliau memang pernah mengucapkan kata-kata tentang akhir hayatnya nanti yang berjarak hampir delapan tahun yang akan datang. Warga sekitarnya berduyun-duyun  melayat almarhum untuk mencari berkah dan berbela sungkawa atas wafatnya orang yang disegani dideluruh kawasan Sleman tersebut. Sekaligus sambil menengok Nyai Nototrisula yang baru melahirkan anak ke tiganya. Sangat takjub pada heran dan hormat kepada kyai kesohor tersebut apalagi para muridnya pasti sangat sedih ditinggalkan gurunya yang memang bukan orang sembarangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar